Love Story
Sebuah Perjalanan Pulang
Kami tidak memulai dengan cerita yang indah. Ada luka yang belum sepenuhnya sembuh, ada cerita lama yang masih tersisa. Namun siapa sangka, dalam riuhnya dunia, justru di situlah kami belajar bahwa Allah tidak mempertemukan tanpa alasan.
Tentang Bertahan
Bagi kami, cinta bukan sekadar pertemuan, melainkan seni untuk tetap tinggal ketika punya banyak alasan untuk pergi. Kami yang diam-diam mengajarkan hati untuk terbiasa melanggar dan menunda taat.
Ujian untuk Diselamatkan
Ada perasaan nyaman yang membuat kami bertahan, tetapi bersama dengan itu datang cemas dan rasa bersalah sebab hati tahu batas sedang dilanggar. Ternyata perjalanan ini tidak hanya dipenuhi bahagia, tetapi juga air mata, ragu, dan waktu yang menguji keyakinan. Yang salah memang sering terasa nyaman karena nafsu pandai menenangkan sementara sebelum akhirnya meninggalkan luka.
Jeda untuk Pulang
Pada rentang tahun 2024-2025, ada dua pilihan yang sama-sama menyayat: memilih Allah dan kehilangan seseorang, atau memilih seseorang dan kehilangan diri di hadapan Allah. Kami memutuskan untuk saling melepas, bukan karena kisah kami gagal, tapi karena iman kita tak boleh ikut runtuh. Percayalah, yang haram tak pernah melahirkan damai; ia hanya memberi senang sesaat lalu menagihnya dengan rasa bersalah.
Takdir dan Keyakinan
Akhirnya kami belajar memahami bahwa tidak semua doa dijawab secepat harapan. Namun di setiap jeda, kami belajar percaya pada Sang Maha Cinta yang selalu tahu ke mana hati harus pulang. Kami yakin takdir terbaik selalu menemukan jalan pulang. Kini dengan penuh syukur, kami menantikan hari sakral ketika dua jiwa dipersatukan dalam satu ikatan suci. Doakan kami agar setiap langkah selalu dipeluk oleh lembutnya takdir dan diberkahi kebahagiaan yang tak lekang oleh waktu.